Apa sih Tujuan Gerakan Karo Bukan Batak (KBB)?

Diskusi mengenai 'gerakan Karo Bukan Batak (KBB) sudah sangat meluas, khususnya di dunia maya sepertinya tidak dapat dibendung lagi pergerakannya. Berdasarkan pengamatan saya sendiri, perbincangan dengan topik Karo Bukan Batak selalu saja menghiasi group-group karo di facebook. Pebedaan pendapat sesama orang karo tentu saja sering ditemui,  dan saya perhatikan hal tersebut terjadi karena masih banyak yang beranggapan negatif dengan gerakan karo bukan batak. 

Umumnya orang karo yg tinggal di perantauan dan orang karo yg lahir dari campuran dengan suku lain  merasa cukup 'terganggu' dengan istilah Karo Bukan Batak ini dan mereka beranggapan bahwa Gerakan Karo bukan batak tidak membangun dan hanya mencerimkan kecemburuan terhadap agresivitas suku lain.

Nah, daripada menimbulkan salah tanggap antar sesama suku karo dan juga dengan suku yang lain di sumatera utara, berikut ini Tujuan Gerakan Karo Bukan Batak yang saya kutip dari milis YahooGroups.

Tujuan Karo Bukan Batak (KBB)

Kedalam Masyarakat Karo:
  1. Terjadi diskusi dan kajian di berbagai forum mengenai Karo, sehingga merangsang minat, rasa memiliki dan membicarakan masa depan Karo.
  2. Membangkitkan antusiasme orang Karo untuk menggali sejarah kulturnya sendiri untuk mengenali jati dirinya yang otentik.
  3. Meningkatkan kebersamaan diantara orang Karo untuk saling menjaga eksistensi Karo di tengah-tengah pengaruh kebudayaan lain yang berpotensi menggerus secara evolutif jati diri Karo yang sesungguhnya.
  4. Menumbuhkan kesadaran baru, terutama bagi generasi muda Karo untuk mengangkat harkat dan martabat suku Karo melalui prestasi di bidangnya masing-masing.
  5. Menumbuhkan antusiasme di kalangan generasi muda Karo untuk memperkenalkan Karo ke masyarakat lain melalui berbagai media dan wacana.
  6. Menumbuhkembangkan sikap kritis (termasuk otokritik) masyarakat Karo untuk menilai diri sendiri diantara masyarakat lain, sehingga secara inheren meningkatkan semangat berkompetisi untuk meraih kemajuan.
  7. Memupuk dan meningkatkan rasa pecaya diri dan tanggung-jawab terutama generasi muda Karo, bahwa nasib dan masa depan Karo ada ditangan mereka sendiri, bukan (dan tidak mungkin) diperjuangkan masyarakat lain.
  8. Mengembangkan kemampuan masyarakat Karo untuk secara lebih ekspresif dan terbuka menyampaikan kepentingan dan suara hati nuraninya kepada pihak lain yang dianggap berkepentingan (sasaran). Dalam hal ini termasuk menyuarakan kepentingan politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk wilayah ulayat Karo.
  9. Mendorong lembaga-lembaga yang ada di masyarakat Karo terutama dipengaruhi "anasir" Batak untuk mengkaji ulang sejarahnya, selanjutnya mereformasi diri sejalan dengan pengetahuan dan perubahan yang terjadi pada masyarakat Karo. Sejarah sudah banyak memberi pelajaran bahwa arus zaman akan melanda siapapun yang tidak mau berubah karena hanya perubahanlah yang tetap.
Keluar Masyarakat Karo:
  1. Membuka cakrawala baru dan pengtahuan masyarakat lain terhadap keberadaan Karo sebagai etnis mandiri.
  2. Menumbuhkembangkan citra baru untuk masyarakat Karo, kerena sedikit demi sedikit akan terlepas dari citra masyarakat Batak (yang baik maupun buruk). Orang Karo akan memiliki citra dan sterotip sendiri pada masyarakat lain sesuai ciri khas orang Karo yang mana adalah jamak pada setiap suku bangsa.
  3. Terbentuknya presepsi dan relasi baru yang lebih rasional-fungsional antara masyarakat Karo dan masyarakat Batak. Walaupun sebagian agak gagap, namun relasi baru tersebut akan lebih produktif dan konstruktif karena didasarkan atas kebutuhan bekerjasama secara lebih nalar dan jelas ketimbang mengedepankan hal-hal yang bersifat emosional "sesama rumpun" seperti selama ini.
  4. Pemerintah dan masyarakat lain sebagai stakeholder Karo akan dengan sendirinya kritis untuk menilai dan memilah apa-apa yang menyangkut kepentingan Karo dan apa yang bukan.
  5. Memicu para antropolog untuk merekontruksi ulang kajian-kajian ilmiah yang selama ini sudah dipublikasikan dan menjai pengetahuan umum mengenai posisi orang Karo. Di pihak lain akan merangsang minat para ahli untuk melakukan kajian lebih lanjut tentang Karo. Temuan di di Kebayaken Aceh Tengah mengenai kerangka berusia 7400 tahun berikut DNA Gayo dan Karo pada kerangka tersebut menunjukkan semangat yang sama.
  6. Masyarakat Karo akan terbebas dari gangguan komunikasi (frekwensi) dan "calo kepentingan" dalam hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah sehubungan dengan sistem pemerintahan kita, sehingga kepentingan politik dan ekonomi masyarakat Karo dapat disalurkan/disuarakan dengan tegas.
  7. Orang Karo menjadi tidak mudah diseret-seret dalam pusaran berbagai kepentingan yang bukan menjadi urusan maupun prioritasnya.
  8. Istilah-istilah Karo menjadi lebih terkenal mengakhiri kerancuan dan salah kaprah (Jawa: gebyah uyah) penggunaan istilah Batak yang selam ini "dikenakan" pada masyarakat Karo. Para jurnalis akan melakukan cek dan ricek apabila hendak memberitakan tentang Karo serta menggunakan istilah Karo sesuai dengan konten dan konteksnya. Khazanah dan informasi tentang Karo secara mudah dapat diperoleh pada blog dan forum Karo di media sosial.
Sumber: http://groups.yahoo.com/group/tanahkaro/message/37398