Sedang Galau? Tidak Usah Kerja, ambil Cuti Patah Hati

Demi mengatur kenyamanan dan produktivitas penduduk dalam menjalani rutinitas kerja, beberapa negara memberlakukan peraturan yang terbilang unik dan cenderung tidak masuk akal. Salah satunya kebijakan yang diterapkan pada sebuah perusahaan marketing, Hime&Company. Perusahaan yang berlokasi di Jepang ini memiliki aturan cuti(meliburkan diri) bagi karyawan yang mengalami patah hati.

Para karyawan yang baru saja putus cinta atau bercerai berhak mengambil cuti patah hati untuk memulihkan diri secara emosional. Tujuannya supaya karyawan bisa kembali fresh dalam bekerja dengan semangat baru.

Jika diperhatikan dari status di media sosial, Indonesia juga semakin banyak generasi muda sering merasa galau karena berpisah dari seseorang yang mereka cinta. Jadi, apakah kebijakan cuti patah hati ini dapat di terapkan di Indonesia?

“Kalau cuti patah hati diberlakukan di Indonesia, bisa-bisa orang sering ambil cuti dalam setahun dong,” kata Mahdian Wiratama, (Act) Human Resources, sebuah perusahaan kelapa sawit yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurut Mahdian, seperti dikutip dari kompas female (senin, 9/2) adanya aturan cuti patah hati di jepang dapat dimaklumi. Warga Negara Jepang tersebut memang memiliki tingkat stres yang tinggi dan rentan mengalami depresi. “Setiap hari orang bisa saja patah hati. Namanya manusia, pasti ada yang ingin mencari keuntungan untuk diri sendiri. Jika peraturan itu ada di Indonesia, malah nanti digunakan untuk menghindari tanggung jawab dalam pekerjaan. Sebab, tidak mungkin HR melakukan pemeriksaan pada psikater setiap saat,” ujarnya.