Masyarakat Miskin di Kabupaten Karo Meningkat Hingga 15% pada Tahun 2015

Pada tahun 2015 ini, masyarakat miskin di kabupaten karo diperkirakan meningkat sekitar 15 persen. Selain dampak erupsi gunung Sinabung, kenaikan BBM menjadi salah satu penyebab pertambahan rakyat miskin. Kenaikan harga BBM pada 28 maret, premium(Ron 88)  yang di bandrol Rp. 7300 dan solar Rp. 6900 mengakibatkan harga sembako naik 10 persen.

Dampak kenaikan BBM juga menambah pengangguran di kabupaten karo. Tingginya biaya operasional dan tuntutan kenaikan upah pekerja mencapai 14 persen(dari Rp. 60ribu menjadi Rp. 70 ribu) menyebabkan banyak perusahaan kecil dan mikro tutup.

Disamping itu, Masyarakat karo yang 67 persen petani terancam bangkrut karena erupsi gunung sinabung yang tidak kunjung selesai ditambah tingginya biaya produksi tetapi tidak di imbangi kenaikan harga komoditi.

Sangat memperihatinkan, untuk lebih lengkapnya silakan baca berita dibawah yang saya kutip dari harian analisa.

Jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Karo meningkat 15 persen pada 2015. Peningkatan terjadi diyakini faktor kenaikan bahan bakar minyak (BBM) sejak 28 Maret selain memang akibat bencana Gunung Sinabung.

Sejak penyesuaian harga baru BBM jenis solar dibanderol Rp 6.900 perliter, premium Ron 88 Rp 7300 perliter sebelumnya Rp 6800 perliter, menyulut harga sembako naik 10 persen. Kondisi ini berakibat tingginya biaya hidup.

Banyak usaha kecil dan mikro tutup karena tidak bisa melakukan operasi. Sebab biaya cukup tinggi ditambah tuntutan pekerja minta penambahan gaji mencapai 14 persen dari Rp 60 ribu menjadi Rp 70 ribu per hari.

“Andaipun usaha berjalan, pergerakannya lamban karena biaya operasional naik mencapai 15 persen,” ungkap Hendrik SP pengusaha pupuk kompos pada Analisa, Sabtu (4/4).

Kenaikan harga di bidang produksi dan lainnya tidak diimbangi kenaikan harga komoditi, seperti buah dan sayur mayur menyebabkan masyarakat Karo yang 67 persen petani terancam bangkrut dan jatuh miskin. Faktornya biaya perawatan cukup tinggi saat ini, ujarnya.

Dampak kenaikan BBM tidak hanya bertambahnya penduduk miskin di Karo, juga bertambahnya pengangguran akibat perusahaan tempat mereka bekerja tutup karena tidak bisa operasi lagi.

Seorang ibu rumah tangga, Ina Sitepu mengatakan, harga kebutuhan pokok naik. Beras sebelumnya Rp 9.200 per kilogram kini menjadi Rp10.000. Itu pun beras golongan menengah. Belum lagi harga minyak goreng dari Rp 11.000 jadi Rp 12.500 per liter. Harga telur dari Rp 29.000/papan jadi Rp32.000 per papan. Apalagi diikuti harga kebutuhan lain yang naik membuat biaya dapur yang diberikan suami seminggu Rp 100.000 biasanya cukup sekarang ini jadi kurang, katanya.

palagi, akibat bencana erupsi Sinabung, harta benda 2.053 kepala keluarga (KK) dari tujuh desa dan satu dusun di empat kecamatan ludes diterjang awan panas, debu vulkanik, dan lahar dingin Sinabung.

 Kondisi ini membuat mereka harus tinggal di rumah kontrakan atau tempat kerabat, menanti pemerintah siapkan rumah dan lapangan kerja yang baru setelah tinggal di daerah relokasi Siosar nantinya.

Gunung Sinabung masih status siaga dan senantiasa menyemburkan awan panas dan debu vulkanik menyebabkan tanaman di radius lebih dari 5 Km terkena dampaknya. Terutama lahan pertanian kondisinya sangat mengkhawatirkan memungkinkan kegagalan panen terjadi.

Lahan pertanian hancur diselumuti debu vulkanik Sinabung, masyarakat petani kurang modal semakin menguatkan asumsi, bencana Sinabung berefek membuat masyarakat petani terimbas hidup miskin, kata Jonan Karo-karo.
Sumber berita: http://analisadaily.com/sumut/news/kemiskinan-di-karo-meningkat/122114/2015/04/06
sumber gambar : www.luwuraya.net