PHK Besar-besaran Sedang Mengintai Indonesia

Pemutusan Hubungan Kerja(PHK) secara besar-besaran sedang mengintai perekonomian Indonesia.  Hal ini disebabkan gejolak ekonomi global serta lambannya pertumbuhan ekonomi global. Beberapa perusahaan multinasional yang berinvestasi di Indonesia diprediksikan bakal kurangi pekerja ataupun bisa saja merelokasi pabriknya.
Ilustrasi korban Pemutusan Hubungan Kerja(PHK) (int)
Panasonic serta Toshiba di beritakan bakal hengkang dari Indonesia. Kedua perusahaan raksasa elektronik dari Jepang ini diprediksikan bakal menutup pabriknya akibat perekonomian global yang sedang lesu. Panasonic dan Toshiba sedang mengalami penurunan kapasitas serta dengan terpaksa melakukan PHK dalam skala yang kecil. Walaupun demikian pemerintah masih membantah penutupan pabrik Panasonic dan Toshiba.

"Bukan menarik diri. Mereka bakal merelokasi dari tempat yang sekarang pindah ke suatu tempat," tutur Sekretaris Kabinet Pramono Anung, saat ditemui di Bogor (Kamis,4/2/2016).

Entrepreneur Rachmat Gobel menyebutkan, keadaan Panasonic tak seperti Toshiba atau PT. Ford Motor Indonesia (FMI). Panasonic lakukan restrukturisasi serta rasionalisasi unit usaha untuk produk alat-alat listrik untuk tingkatkan efisiensi serta produktivitas kerja.

Beberapa perusahaan multinasional sudah lakukan PHK. Sandoz Indonesia tutup usaha mulai maret 2016 serta lakukan PHK terhadap sekitar 200-an orang pekerjanya. Chevron Indonesia tengah mempertimbangkan untuk PHK 1700-an orang, demikian juga dengan Ford Motor Indonesia(FMI) sudah mengumumkan penutupan usahanya di Indonesia mulai pertengahan tahun ini.

Selain itu, perusahaan yang memiliki potensi untuk PHK karyawannya antara lain Commonwealth sebanyak 30-35% karyawan. Kemudian, ANZ Bank telah melakukan PHK terlebih dahulu, Bank Citibank, Bank CIMB Niaga serta bank-bank nasional telah lakukan restrukturisasi karyawan.