Suka Coret-Coret Uang Rupiah? Penjara 5 Tahun Dan Denda 1 Milyar

Apakah Anda termasuk orang yang suka iseng mencoret-coret atau menambah tulisan pada uang kertas? kalau memang benar, sebaiknya kebiasaan tersebut harus anda hentikan.

Tindakan mencoret uang kertas dianggap sebagai sebuah perilaku yang merendahkan kehormatan ataupun penistaan terhadap Rupiah. Berdasarkan pasal 35 ayat 1 Undang-Undang No.7 tahun 2011 tentang Mata Uang, pelaku yang sengaja merendahkan kehormatan rupiah bisa dikenakan hukuman lima tahun penjara.

"Setiap orang sengaja memotong, menghancurkan dengan maksud merendahkan kehormatan rupiah dipidana penjara paling lama lima tahun dan denda satu miliar rupiah," kata Suhaedi Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia  di Jakarta(Selasa, 2/2/2016).
Uang rupiah yang dicoret-coret(int)
Walaupun sering ditemukan adanya kasus penistaan rupiah tersebut. Tetapi, menurut Suhaedi, masih belum ada satupun penegakan hukum yang sudah dilakukan.

"Selama ini belum ada, sebab penindakan ada di aparat penegak hukum. Kami bersama penegak hukum terus sosialisasi dan berupaya terkait penanggulangan uang yang diduga palsu," tambahnya.

Bank Indonesia(BI) juga mempunyai prosedur tersendiri untuk tindakan memusnahkan uang dengan kondisi yang sudah tidak layak edar. Hal tersebut tertuang dalam beleid mata uang dan Peraturan Bank Indonesia No. 14/7/PBI/2012 tentang pengelolaan mata uang rupiah.

"Uang yang sudah tidak layak edar akan diganti dengan uang baru sehingga lebih nyaman,"ujarnya

"Uang-uang dikumpulkan oleh bank di daerah lalu disetor ke Bank Indonesia. Kemudian di Bank Indonesia di pilah mana yang layak edar dan tidak layak edar. Uang yang tidak layak edar, akan kami musnahkan, dan uang yang layak edar akan mengisi seluruh mesin ATM dan counter perbankan. inilah clean money policy."

Oleh sebab itu Suhaedi mengajak seluruh masyarakat untuk lebih menjaga kualitas uang rupiah, sehingga uang yang beredar kualitasnya baik.

"Hal ini kan sebenarnya masalah edukasi serta pemahaman masyarakat kita. Selama ini masyarakat merusak uang karena ketidaktahuan, maka sebaiknya kita gunakan pendekatan sosialisasi," ujar dia.