Penyebutan 'Karo Bukan Batak' Menuai Perpecahan

Penyebutan 'Karo Bukan Batak' Menuai Perpecahan - Mendiskusikan mengenai  "kinikaron" di dunia maya dengan topik-topik kebudayaan, adat istiadat, tradisi tentu sangat bermanfaat untuk melestarikan dan menambah wawasan sesama orang karo khususnya generasi muda Karo. Perbedaan pendapat mengenai topik-topik tersebut secara tidak langsung akan merangsang minat para generasi muda untuk menggali kebudayaanya lebih jauh.

Tetapi apa jadinya jika diskusi diarahkan oleh sebagian orang untuk kepentingan pribadi dengan penyebutan "Karo Bukan Batak" dalam setiap diskusi kinikaron. Seakan-akan dengan bangganya mereka mendoktrin para generasi muda yang haus pengetahuan untuk mengkampanyekan Karo bukan bagian dari Batak. Kenapa kita harus diskusi, memperkenalkan, menggali kebudayaan Karo di dunia maya ini dengan menyebutkan "Karo Bukan Batak"? Sangat kurang etis rasanya meneriakkan "Karo Bukan Batak" dengan dalih mempertahankan eksistensi suku Karo.

Mengapa saya sampaikan seperti itu, berikut beberapa alasan mengapa Penyebutan 'Karo Bukan Batak' Menuai Perpecahan yang saya rangkum berdasarkan pengamatan saya sendiri.
  • Menyinggung suku lain

    Dengan menyatakan "Karo Bukan Batak (KBB)" sudah jelas menyinggung keberadaan sebuah suku bangsa yang selama ini dikenal di Indonesia bahkan di seluruh pelosok dunia. Memang benar, bisa saja terdapat kekeliruan sejarah dalam hal penyebutan atau pelabelan batak yang dianggap mewakili semua suku di sumatera utara. Walaupun begitu sangat disayangkan jika kita ingin menunjukkan eksistensi suku kita dengan selalu mengkaitkan ke suku lain.
  • Selalu mengedepankan perbedaaan

    Semua suku bangsa di indonesia pasti memiliki persamaan dan perbedaan. Di dasar negara juga dituliskan Bhineka Tunggal Ika, walau berbeda tetapi kita tetap satu. Negara saja jelas-jelas menghargai kemajemukan dan melalui pancasila kita bersatu dalam NKRI. Kita sebagai warga negara juga sudah selayaknya menghargai perbedaan dan tidak seharusnya menyamakan hal-hal seperti suku, budaya, agama yang pada dasarnya memang berbeda. Sikap yang selalu menonjolkan perbedaan (Karo Bukan Batak) dalam setiap diskusi "kekaroan" akan memberikan kesan negatif dari suku yang bukan karo terhadap suku karo sendiri. Sesama suku karo yang selama ini menikmati keharmonisan hidup berdampingan dengan suku lain juga pasti tidak menginginkan perpecahan hanya karena penyebutan "Karo Bukan Batak" oleh segelintir orang.
  • Sukuisme yang terlalu berlebihan

    Menyampaikan kalimat "Karo Bukan Batak" jelas menunjukkan sifat sukuisme yg terlalu berlebihan. Ketika menegaskan bahwa karo bukan batak, mengindikasikan bahwa suku kita lebih baik dibandingkan suku lain. Kita akui, sebagai orang Karo tentu mencintai kebudayaan, adat istiadat dan ingin mempertahankannya sehingga tetap terus dapat dilestarikan sampai anak cucu kita. Tetapi, jangan sempat kecintaan kita tersebut menimbulkan pertikaian dalam kehidupan bermasyarakat. 
  • Kecemburuan terhadap agresivitas suku lain

    Dari segi populasi, suku batak(toba) memang lebih banyak daripada suku karo. Segi jumlah tersebut juga salah satu hal yang membuat batak lebih dikenal dibandingkan Karo. Terlebih lagi, dari letak geografis tanah karo yang berada di pegunungan dan memiliki tanah subur, berbeda dengan orang batak yang tanahnya kurang subur dan kebanyakan merantau meninggalkan kampung halaman. Agresivitas orang batak menjalani kehidupan di perantauan secara tidak langsung membuat batak lebih dikenal dari pada Karo. Sebagai orang karo kita seharusnya ikut berbangga, sifat agresif orang batak juga ikut menaikkan derajat kita sebagai sesama suku dari sumatera utara, bukan malah menunjukkan kecemburuan kita dengan meneriakkan "Karo Bukan Batak".
  • Menciptakan sentimen negatif dari suku lain

    Hidup berdampingan antar sesama suku khususnya di sumatra utara yang selalu harmonis bisa saja  terpecah karena segelintir orang yang mengatasnamakan orang Karo. Perasaan sentimen negatif dari suku lain dapat tertanam kepada suku karo jika kita terus dengan bangganya meneriakkan kemandirian kita dengan "Karo Bukan Batak". Ada baiknya kita menghargai sesama suku karo di perantauan yang selama ini telah hidup berdampingan dengan ikatan satu suku dari sumatra utara. Di tanah karo sendiri yang mayoritas orang karo tidak pernah membedakan suku, agama maupun golongan tertentu dalam pergaulan bermasyarakat. Jangan tanam bibit perpecahan.
  • Terciptanya perasaan superior terhadap sukunya sendiri

    Orang karo yang selalu menyebutkan Karo Bukan Batak selalu menganggap suku Karo lebih baik dari pada suku lain. Suku "Karo adalah Suku Mandiri" , "Karo Bukan Batak" katanya. Terlalu berlebihan, pada kenyataanya jelas kita tidak jauh berbeda dengan suku bangsa lain. 
  • Tidak mencerminkan orang Karo

    Sifat menuai pertikaian dengan menyebutkan "Karo Bukan Batak" bukan mencerminkan kepribadian orang Karo. Orang Karo pasti pernah mendengar perumpamaan "si kuning kuningen radu megersing, siageng-agengen radu mbiring". Jika kita sama-sama berbuat baik maka hasilnya juga akan baik untuk kita semua, begitu juga sebaliknya. Jangan sampai perbuatan yang dilakukan segelintir orang karo, merusak kehidupan bermasyarakan orang karo secara keseluruhan.
Sekali lagi saya ulangi, sebagai sesama orang Karo, tentu kita sangat mencintai dan ingin mempertahankan kebudayaan, adat istiadat serta tradisi Karo. Namun, jangan sampai rasa cinta kita terhadap "kinikaron" menjadikan kita gelap mata dan dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk kepentingan pribadi  sehingga menimbulkan perpecahan sesama kita suku karo dan suku lain.

Bujur ras Mejuah-juah man banta kerina.