Penyebab pengembangan teknologi Indonesia dilibas Malaysia dan Vietnam

Pasca krisis ekonomi tahun 1998, perkembangan industri dan teknologi baru di Indonesia tergolong lambat. Peneliti senior Core Indonesia Mohammad Faisal menyebutkan, Vietnam lebih dahulu berkembang dan melampaui Indonesia.

"Kita sudah lama kalah dengan Vietnam. Angkatan kita itu Malaysia, Filipina, Thailand yang sama sama membangun di industri. kita berhenti di tengah," kata Faisal, Rabu (27/4).

Menurut Faisal, salah satu penyebabnya adalah minimnya dana riset dan apresiasi pemerintah terhadap riset-riset teknologi industri. Industri perlu didukung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. "Kita lambat di bidang transfer teknologi, riset dan sains. Satu karena budget rendah, dua karena apresiasi pemerintah kurang," imbuhnya.
Mobil Listrik (merdeka)
Selama ini riset yang selesai dikerjakan kurang mendapat perhatian. Pemanfaatannya hanya untuk koleksi perpustakaan saja. Padahal di luar negeri, peneliti sengaja dibiayai mahal dan hasilnya digunakan untuk pengembangan industri.

"Contohnya di Australia tentang pembiayaan riset tempe. Hasilnya dipakai oleh institusi, patennya dia pegang, bukan si peneliti," jelasnya.

Selain dana, yang perlu diperhatikan adalah soal paradigma dan pemberian apresiasi. Jangan sampai orang-orang kreatif justru di tekan agar tidak berkembang. Oleh sebab itu, harus ada peran dari pemerintah, untuk menghubungkan para peneliti dengan pelaku usaha.

"Misalnya beberapa waktu yang lalu kan ada mobil listrik. Tapi itu tidak mendapat apresiasi, malah diintimidasi karena kepentingan politik," pungkasnya.

Pemerintah sendiri sudah berupaya menaikkan anggaran untuk pendidikan, termasuk di dalamnya lembaga riset. Anggaran tahun 2016 untuk fungsi pendidikan 2016 sebesar Rp 424,8 triliun atau naik Rp 42,7 triliun dari tahun lalu.(mdk)