Objek Wisata Di Tanah Karo: Desa Budaya Lingga


Objek Wisata Di Tanah Karo: Desa Budaya Lingga
Selain Wisata Alam seperti pegunungan, air terjun dan danau, Tanah Karo juga memiliki objek wisata budaya. Desa Lingga atau dikenal dengan desa budaya Lingga merupakan objek Wisata di tanah karo yang hingga kini tetap melestarikan peninggalan-peninggalan suku karo seperti Rumah Adat Karo, Jambur (tempat berkumpul, musyawah, pesta), Geriten (tugu pemakaman), Lesung (tempat menumbuk padi), Sapo Page (tempat menyimpan padi) hingga Museum Karo.

Desa Budaya Lingga

Dulunya Desa Lingga terbagi dalam beberapa subdesa/ bagian yang disebut dengan Kesain. Kesain merupakan pembagian wilayah desa yang namanya disesuaikan dengan marga yang menempati. Nama-nama kesain di Desa Lingga terdiri dari Kesain Rumah Jahe, Kesain Rumah Julu, Kesain Rumah Bangun, Kesain Rumah Berteng, Kesain Rumah Mbelin, Kesain Rumah Buah, Kesain Rumah Gara, Kesain Rumah Kencanen dan Kesain Rumah Tualah. Semua Kesain itu adalah milik marga Sinulingga yang merupakan si mantek (pendiri) Desa Lingga. Selain itu, terdapat juga Kesain untuk marga yang bukan Sinulingga yaitu Kesain Rumah Manik, Kesain Rumah Tarigan dan Kesain Rumah Munte.

Seiring dengan perkembangan jaman dan pertumbuhan penduduk, kini Desa Lingga telah terbagi dua yaitu  Desa Lingga Lama dan Desa Lingga Baru. Desa Lingga Lama atau dikenal dengan Desa Budaya Lingga merupakan wilayah desa yang awal, sedangkan Desa Lingga Baru merupakan adalah desa bentukan pemerintah untuk merelokasi penduduk sehingga perkampungan yang lebih tertata. Pada awalnya Desa Lingga Baru dibuat untuk merelokasi perumahan penduduk yang dikhawatirkan akan mengganggu kelestarian dan ketradisionilan Desa Lingga Lama sebagai sebuah Desa Budaya.

Rumah adat Karo

Rumah adat Karo dinamakan dengan siwaluh jabu. Waluh berarti delapan, Jabu berarti keluarga atau bagian utama rumah/ ruang utama. Tiang-tiang penyangga rumah adat karo seperti dinding, dan beberapa bagian atas, semuanya terbuat dari kayu. Rumah adat Karo berbentuk rumah panggung dan memiliki ciri dan bentuk yang sangat khusus. 

Di dalam Rumah Adat Karo  terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai penyekat ataupun ruangan sebagai kamar. Satu rumah adat dihuni oleh 8 atau 10 keluarga yang masih berkerabat. Bentuk Rumah adat karo berupa rumah panggung dengan tingginya sekitar 2 Meter dari tanah dan ditopang oleh tiang yang umumnya berjumlah 16 buah dari kayu yang berukuran besar. 

Kolong rumah adat dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan kayu dan kandang ternak. Rumah adat karo memiliki dua pintu, pintu satu menghadap ke barat dan yang satunya lagi menghadap ke sebelah timur. Di depan masing-masing pintu terdapat Ture (serambi/ beranda) yang terbuat dari bambu-bambu bulat. Ture ini biasanya digunakan untuk tempat bertenun, mengayam tikar dan pada malam hari berfungsi sebagai tempat naki-naki atau tempat perkenalan para pemuda dan pemudi. 

Atap rumah adat karo dibuat dari ijuk dan kedua ujung atapnya terdapat Ayo-ayo berupa anyaman bambu berbentuk segitiga. Di puncak Ayo-ayo terdapat tanduk dan kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah. Kepala kerbau dan tanduk ini dipercaya sebagai penolak bala.

Selain rumah adat Siwaluh Jabu, bangunan-bangunan tradisional Karo yang ada atau pernah ada di Desa Lingga antara lain Jambur, Griten, Kantur-kantur, Lesung dan Museum 

Jambur

Bentuk Jambur mirip dengan rumah adat, akan tetapi bentuknya tidak berpanggung dan tidak berdinding. Jambur digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pesta, tempat musyawarah dan dulunya juga digunkaan sebagai tempat untuk mengadili orang-orang yang melanggar perintah raja dan adat yang berlaku. 

Griten

Geriten berfungsi untuk menyimpan kerangka ataupun tulang-tulang sanak keluarga pemilik griten yang telah meninggal. Geriten memiliki bentuk seperti rumah adat, tetapi bentuknya jauh lebih kecil dan mempunyai empat sisi. Geriten berdiri di atas tiang dan mempunyai dua lantai. Lantai bawah tidak berdinding sedangkan lantai pada bagian atasnya berdidnding. Lantai bagian bawah memiliki pintu yang digunakan sebagai jalan untuk memasukkan kerangka orang yang telah meninggal. 

Kantur-kantur

Kantur-kantur ataupun kantor Raja merupakan rumah yang digunkan untuk pertemuan antara Raja dengan pemuka-pemuka masyarakat untuk memecahkan berbagai masalah dan bentuknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan rumah Siwaluh Jabu.

Museum Lingga

Museum Lingga ataupun lebih dikenal dengan Museum Karo Lingga digunakan untuk menyimpan benda- benda tradisional Karo seperti capah (piring kayu berukuran besar untuk makan sekeluarga), tongkat, alat-alat musik karo dan lain sebagainya.

Lokasi Desa Lingga

Desa Lingga terletak pada ketinggian sekitar 1.200M dari permukaan laut dan jaraknya sekitar 15 KM dari kota Berastagi atau jika melalui kota Kabanjahe menempuh jarak sekitar 10 KM. Dari Kabanjahe. tepatnya di Tugu Bambu Runcing  terdapat angkutan umum yang langsung menuju ke Desa Budaya Lingga.